Orang bilang pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi
bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya ? Apakah
Tuhan campur tangan di dalamnya ? Suatu
hari dalam hidupku, kau dan aku bertemu. Masih jelas di ingatanku sosokmu yang
memukauku. Lidahku jadi kelu, mulutku tertutup rapat-rapat karena malu. Kita bukanlah dua garis yang tak
sengaja bertabrakan. Aku sendiri tak percaya dengan cinta pada pandangan
pertama. Kau tak percaya takdir
? aku pun tidak. Tapi kamu adalah pengecualian, kamu muncul di sudut
pandang mata seperti sesuatu yang wajar adanya, menghangatkan wajahku seperti
cahaya matahari pagi. Suaramu bergelenyar lembut seperti belaian angin sore.
Seluruh indraku bereaksi waspada,
kamu adalah godaan yang tak bisa disangkal begitu saja. “siapa namamu?” batinku
bertanya-tanya. Kamu benar-benar membuat pikiranku tak karuan. Aku semakin
sering melihatmu dalam hidupku, tetapi aku tak punya petunjuk barang secuilpun
tentang dirimu. Kamu misterius seperti malam tak berbulan. Hadirmu memabukkan
seperti aroma rempah-rempah. Namun, sebelum aku berhasil membongkar misteri
tentangmu sosokmu menguap begitu saja seperti embun menjelang siang. Ku kira nyeri
di hatiku bisa cepat pergi, dibantu oleh hatiku. Ternyata salah !
Perasaanku tak sama
lagi setelah kepergianmu. Kau membuatku mencandu, kau membuatku merindu.
Mengutip + share dari mbak Dwitasari , check this link : http://dwitasarii.blogspot.com/
Tuhan...
selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat malam. Aku tak tahu di surga
sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Ataukah mungkin sekarang sedang
turun salju? Pasti indah. Kalau boleh berbincang sedikit, aku belum pernah
melihat salju. Mungkin, kalau aku sudah cukup dewasa dan sudah bisa
menghasilkan uang sendiri, aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata kepalaku
sendiri.
Aku tahu
Kamu tak pernah sibuk. Aku tahu Kamu selalu mendengar isi hatiku meskipun Kamu
tak segera memberi pukpuk di bahuku. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Kamu
mendengar doaku atau tidak. Aku percaya telingaMu selalu tersedia untuk
siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun
yang lelah pada dunia yang membuatnya menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu
siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang patah.
Masih
tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin ganti topik. Tentang dia.
Seseorang yang selalu kuperbicangkan sangat lama bersamaMu. Seseorang yang
selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang denganMu.
Aku sudah
tahu, perpisahan yang Kau ciptakan adalah sesuatu yang terbaik untukku. Aku
mengerti kalau Kamu sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik darinya.
Tapi... bukan berarti aku harus absen menyebut namanya dalam doaku bukan?
Nah... kalau
yang ini, aku juga sudah tahu. Dia sudah menemukan penggantiku, entah lebih
baik atau lebih buruk dariku. Atas alasan apapun, aku harus turut bahagia
mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan kesedihannya seperti yang
aku lakukan beberapa hari terakhiri ini. Seiring mendapatkan penggantiku, ia
tak perlu merasa galau ataupun merasa kehilangan. Sungguh... aku tak pernah
ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan, Tuhan. Aku tak pernah tega
melihat kecintaanku terluka seperti luka yang belum juga kering di dadaku. Aku
hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.
Tolong kali
ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketika tahu
semua berlalu begitu cepat. Apalagi ketika dia menemukan penggantiku hanya
dalam hitung jam. Aku memang tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati
perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran
negatif, tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing. Ia
berganti-ganti peran sesukanya. Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti
wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan
padaku, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
Aku tidak
tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan kekasih barunya.
Aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu. Aku yakin dia pasti bahagia, karena
begitu mudah mendapatkan penggantiku.
Aku percaya
dia sedang dalam titik jatuh cinta setengah mati pada kekasih barunya, dan
tidak lagi membutuhkan aku dalam helaan napasnya. Permintaan yang sama seperti
kemarin, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Bahagiakan dia untukku.
Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku rela menangis untuknya
agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Aku ingin lakukan apapun untuknya,
tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak menyentuhnya. Tapi... dalam
jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam doa.
Pernah
terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan segala sakit yang pernah
kurasa. Agar aku tak pernah merasa kehilangan dan tak perlu menangisi sebuah
perpisahan. Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah
melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun... aku tahu hidup
tak bisa seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia.
Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati
yang telah terjadi. Itu dalam persepsiku lho, Tuhan. Kalau pendapatMu berbeda
juga tak apa-apa.
Aku memang
tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. Ia
pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. Aku turut senang
jika hal itu benar, kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku tak pernah ingin dia
merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.
Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera putus dari kekasihnya, atau
hubungan mereka segera kandas di tengah jalan. Aku hanya minta agar ia sembuh
dari maag akutnya. Agar ia terhindar dari vertigo parahnya. Agar muntah
darahnya berhenti ketika tubuhnya kelelahan. Semoga kekasihnya mengerti betul
penyakitnya seperti aku mengerti rasa sakitnya.
Kembali pada
bagian awal. Aku hanya ingin ia bahagia. Cukup.
Selamat Malam untuk kamu yang selalu ku rindukan
disana :)
Tulisan ini ku buat hanya untuk mengungkapkan
perasaanku dahulu
yang masih membekas hingga sekarang :’)
Aku ingin lagi menjadi seseorang yang berarti
bagimu, aku
ingin menjadi bagian dari tawamu, dari mimpi-mimpimu. Mungkin saat ini
kau
tidak akan memimpikanku, mungkin tidak hari ini, mungkin jugak tidak
untuk
selamanya. Aku kangen senyuman itu , saat kamu buat aku tertawa dengan
celotehanmu, saat kamu menjagaku dengan badanmu yang membuatku teramat
sangat
nyaman, menemaniku, dan aku juga kangen semua hal-hal tentangmu :'(
Kamu yang dahulu terbiasa denganku, kamu yang
selalu ada
untukku, kamu yang menjadi malaikatku saat senyum dan tangisku
meronta-ronta,
kini tinggal aku disini. Sudut pandang mata yang biasa aku lihat setiap
hari,
bahkan setiap saat bersamamu. kini tinggal bayangan itu yang masih
membekas :')
Inilah aku yang menyayangimu dengan seluruh
kelebihan dan
kekuranganku. Kamu yang membuatku hidup, dan kamu juga yang mematikan
hatiku
dalam sekejap. Setelah kamu pergi aku berhasil menutup luka itu. Dan
sekarang
kamu tiba2 dateng lagi membuka luka lama yang sudah berangsur pulih :'(
Untukmu yang disana , semoga Tuhan selalu
melindungimu ya :'),
menjagamu untukku, menghapus
air matamu ketika kedua tanganku sudah tak bisa lagi menghapusnya,
menghilangkan beban dipikiranmu, menerangi cahaya hidupmu :’) gak kerasa
ya
udah 8bulan tanpa kamu :(
tapi rasa itu gak mau pergi ! rasa itu yang membuat aku selalu berfikir
bahwa kamu
ada disini. Ada bersamaku saat ini. Sekalipun hanya bayangan yang
memenuhi
memori otakku :’)
aku belajar tentang cinta yang tak mengekang ,
itulah
ketulusanku yang siap melepasmu jika genggaman tanganku sudah tak lagi
beri
rasa nyaman :) ♥Jªªndippo